Dari Pesisir Lamongan untuk Kontribusi Global: Pemuda untuk Aksi Iklim bagi Pembangunan Berkelanjutan

39

Dari banyaknya dampak perubahan iklim, secara geografis wilayah pesisir merupakan yang paling terdampak. Perubahan iklim membawa akibat berupa ketidakseimbangan ekosistem laut dan kenaikan permukaan air laut, keduanya menjelma ancaman bagi kehidupan dan pemukiman di daerah pesisir. Prof. Edvin Aldrian sebagai pakar iklim dan metereologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan bahwa hilangnya wilayah pesisir dan kemunduran garis pantai di Asia Tenggara telah diamati dari tahun 1984-2015. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa permukaan laut regional rata-rata terus meningkat, hal tersebut menyebabkan banjir menjadi lebih sering terjadi di derah pantai. Ditambah lagi Tingkat Total Ekstrim Air (Extreme Total Water Level/ETWL) lebih tinggi di daerah dataran rendah dan erosi pantai mulai terjadi di sepanjang pantai berpasir.

Melihat urgensi untuk menempatkan komitmen aksi iklim pada prioritas utama, berbagai aktor internasional telah menyelenggarakan rangkaian pertemuan yang menghasilkan formulasi kebijakan dan aksi untuk menanggulangi dampak perubahan iklim. Program Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals-SDGs) merupakan salah satu komitmen internasional utama yang lahir dari kekhawatiran bersama, salah satunya perihal perubahan iklim yang mengancam pembangunan berkelanjutan. Sedangkan dalam implementasi aksi-aksi iklim, partisipasi menyeluruh dari masyarakat merupakan kunci keberhasilannya. Di level daerah, pergerakan dilakukan secara masif oleh berbagai komunitas berbasis kepemudaan.

Lamongan sebagai sebuah kota yang terletak di pesisir Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa dengan garis pantai mencapai 47 kilometer merupakan sebuah kabupaten yang menjadikan sektor perikanan dan pertanian sebagai komoditi utama. Kedua sektor ini sangat berkaitan erat dengan siklus cuaca yang dipengaruhi oleh perubahan iklim. Melalui wawancara dengan Falahi sebagai salah satu penduduk desa Brondong yang berbatasan langsung dengan pantai mengatakan bahwa perubahan iklim telah membawa dampak yang serius bagi nelayan, jumlah tangkapan semakin tidak menentu karena sulitnya cuaca untuk diprediksi. Padahal, di Kabupaten Lamongan, jumlah penduduk yang menggantungkan kebutuhan hidupnya dengan menjadi nelayan mencapai 17.893 orang.

Bukan hanya pada sektor perikanan yang berkaitan langsung dengan perekonomian penduduk, perubahan iklim telah membawa dampak geografis. Tanggul laut yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat diprediksi tak mampu cukup kuat membendung dampak gelombang yang membawa pasir atau tanah bersamanya sehingga sedimentasi tanah terus naik. Falahi juga menambahkan bahwa cuaca di daerah pesisir juga menjadi jauh lebih panas dalam beberapa tahun belakangan akibat perubahan iklim.

Meski demikian, perubahan-perubahan pada sektor perikanan dan pertanian serta kondisi geografis belum sepenuhnya disadari masyarakat sebagai dampak dari perubahan iklim global. Alasan ini yang kemudian menjadi latar belakang dibentuknya sebuah komunitas bernama Lamongan teduh yang mulai dirintis pada tahun 2019. Komunitas berbasis kepemudaan ini berfokus pada isu lingkungan untuk secara serempak bersama masyarakat menanggulangi dampak iklim dengan menanam pohon.

Meski masih tergolong sagat baru dan masih merintis, Lamongan Teduh telah berhasil menyelenggarakan rangkaian kegiatan berupa edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menciptakan lingkungan dengan resapan air yang baik untuk mencegah banjir dengan menanam pohon. Bukan hanya menanam pohon, Lamongan Teduh juga mengajak masyarakat untuk merawatnya serta mempelajari dan mempraktikkan teknik persemaian tanaman agar masyarakat dapat sepenuhnya secara mandiri mampu mendukung program menanam pohon bersama. Dalam beberapa kegiatannya, Lamongan Teduh juga mendukung gerakan yang inklusif dengan melibatkan warga tunanetra.

Ami, sebagai penggagas Lamongan Teduh dalam wawancara menambahkan bahwa upaya ini memang tergolong masih terlalu kecil untuk cakupan masyarakat Lamongan yang sangat luas, tetapi Lamongan Teduh percaya mampu mewujudkan Lamongan yang tidak hanya teduh di mata, tetapi juga teduh di hati. Kemudian, sekecil apapun upaya yang dilakukan untuk membantu menangani dampak perubahan iklim sangatlah bernilai bagi kontribusi aksi iklim global. Melalui Lamongan Teduh, pemuda Lamongan berkontribusi untuk aksi iklim global.

Penulis: Nur Aisyah Maullidah